Dieng Culture Festival, Terlalu Asik Travelling Beramai-ramai Hingga Lupa Mendokumentasikannya




Tahun ini, tahun ke-5 Dieng Culture Festival diadakan, dan baru berkesempatan untuk mengunjungi perhelatan akbar warga Dieng tersebut . Berada di area 2000 MDPL , membawa nuansa yang berbeda. Udara dingin menusuk tulang, terasa semenjak kaki menginjakkan tanah di area Dieng .
Dieng Culture Festival dilaksanakan pada 30-31 Agustus , dan aku berangkat dari Jogja mengendarai mobil , jam 7 pagi . Perjalanan lancar dan sampai di Dieng jam 10.30. Perjalanan kali ini rame-rame, ber -11, jadinya.. malah keasikan senang-senang dan lupa mendokumentasikan beberapa kegiatan .  Hehe, maklum, keseringan trip piyambakan .



Acara kirab budaya dimulai pukul sembilan, sehingga terpaksa skip karena harus menemukan villa untuk menginap, dan saat datang pun sambutan yang diterima adalah .... kemacetan.  Jalanan sempit dan pengunjung banyak sekali , lokasi parkir yang jauh dari penginapan, membuat pengunjung memilih memarkir kendaraannya di pinggir-pinggir jalan.  

Kami menginap di perumahan warga yang disewakan musiman,  harga 900 ribu rupiah, dengan fasilitas yakni 3 kamar (2 kamar kecil dan 1 kamar besar yang merangkap juga sebagai ruang berkumpul) , kamar mandi air panas, garasi untuk 1 mobil, namun mobil satunya bisa diparkir di halaman.  Harga segini tergolong mahal , kalau hari-hari biasa sekitar 300-600 ribu.


Kami keluar dan berjalan-jalan sekitar jam 3 sore, sudah merasa dingin, namun masih dalam kategori normal, Destinasi pertama yakni Museum Kailasa , berisi artefak tentang alam dan masyarakat Dieng (Keseharian, kepercayaan, kesenian) di dalam museum juga terdapat teater yang  dipergunakan untuk venue festival film dieng .

Sembari menanti senja, kami mengunjungi candi gatotkaca yang berada tepat di depan museum, kemudian menikmati senja di Candi Arjuna, yang menjadi lokasi utama Upacara pemotongan rambut gembel, keesokan hari .

Dieng Culture Festival,mematok tiket untuk acara ini , Tidak terlalu mahal jika dibandingkan dengan apa yang didapat , untuk tiket VVIP-250K , VIP – 175K , Festival-125K . Aku mengambil tiket VIP , Mendapat goodiebag yang berisi  oblong festival, jagung, lampion, kain batik DCF dan freepas untuk masuk ke Candi Arjuna. Perbedaan tiket ini juga menentukan lokasi duduk saat acara pemotongan Rambut Gembel berlangsung .


Melanjutkan malam dengan bakar jagung bersama, kemudian menerbangkan lampion, ditutup dengan jazz atas awan . Jazz atas awan ini menurutku acara yang menarik, dengan latar Candi Arjuna, dan tarian set panggung yang sederhana tapi cukup, ditambah dengan pesta kembang api . Tapi , udara semakin malam akan semakin dingin, jadi bisa disiapkan baju hangat yang cukup . Aku bertahan sampai di suhu 5 derajat, kemudian memutuskan pulang ke penginapan karena tak tahan dinginnya yang semakin bertambah . Itupun masih di sekitar jam 11 malam .

Prosesi ruwat anak gembel

Sebenarnya, agenda utama dari Dieng Culture Festival ini yakni pemotongan rambut anak gembel . mereka memiliki rambut yang berbeda dari rambut kita, hampir mirip gimbal, tapi tak serapi itu . masyarakat percaya bahwa anak gembel adalah titipan penguasa alam gaib , dan baru boleh dipotong rambutnya saat mereka mengijinkan, serta memenuhi persyaratan yang diajukan . 
Sebelum rambut dipotong, ada beberapa prosesi sembahyangan yang dilakukan , hal ini dimaksudkan untuk mendapat restu dari arwah para leluhur.

Pada pelaksanaan pemotongan rambut gembel ini, terjadi sedikit kekacauan, akses masuk ke candi Arjuna yang semua ditetapkan 3 titik (berdasarkan jenis tiket ) , menjadi hanya 1 pintu dengan alasan keamanan. Hal ini menyebabkan pengunjung berdesak desakan dan berebut untuk masuk .
Meski ketika sudah di area candi, tempat duduk disekat berdasarkan jenis tiket gitu . dan semuanya lesehan, tanpa ada tenda atasnya sih (yaelah, padahal aku gak semanja itu :p) . Tak berselang lama, satu per satu anak dipanggil, disebutkan keinginannya, kemudian dipotong rambutnya oleh pejabat daerah dan pemuka adat .

Sesajen yang ada di area candi , boleh dibawa pulang ketika prosesi selesai lho , katanya bisa bawa berkah gitu , macem-macem sih isinya, intinya hasil bumi yang diolah jadi macam-macam masakan .
Begitu selesai semua prosesi, kami semua segera kabur menuju penginapan dan berbenah untuk pulang serta menikmati kemacetan jalanan di area Dieng . Oh iya, bekal penting saat mau ke dieng , selain baju hangat, bawa sunblock atau lotion atau vaseline gitu , karena cuaca disana ekstrim bikin kulit rewel dan pecah-pecah pas pulang .


Semoga bisa berjumpa di Dieng Culture Festival tahun depan . \e/ 

2 komentar:

  1. Aku telat tau infonya, padahal pengin banget datang.
    Klo rambut anak gembel itu udah dipoting besok ada lagi yang memiliki rambut gembel ya?

    BalasHapus
  2. Selalu ada kak, entah gimana caranya jelasin dengan hal yang logis.. hehe

    BalasHapus