June, you made my day..

*Lanjutan 30 Days of happiness* (Day 13)

BERAT BADAN AKU NAIK !! , wauw, ini benar-benar menyenangkan .

30 Days Of Happiness (Day 11)

Berbahagia dong ya, masih diberi hidup oleh yang Diatas. Masih bisa bercanda bersama teman-teman, masih bisa menghubungi keluarga setiap saat , masih bisa jalan-jalan kemanapun yang dimaui. Masih bisa menggoda lawan jenis, masih bisa kepoin mantan.
Dan kadang, baik sengaja maupun tidak, seringkali kita melalaikan kebahagiaan tersebut . Karena kondisi yang sedang berada dalam waktu “baik-baik saja” . Mengabaikan teman, pasangan, keluarga bahkan Tuhan , guna mengejar berbagai hal yang ada di kehidupan kita.
Pernah merasakan hal yang sama ketika sedang benar-benar “sendirian” . ya, saya akan sedikit bercerita pengalaman yang pernah saya alami .
Sekitar tahun 2012, pertengahan tahun, saya mengunjungi sebuah kota di seberang pulau . Balikpapan. Karena saat itu belum ada rute penerbangan Malang-Balikpapan , maka perjalanan otomatis lewat Surabaya - Balikpapan PP .
Saya tidak akan bercerita, apa saja yang saya lakukan di Balikpapan, tapi intinya pada hari terakhir, saya memang sengaja tidak tidur pada malam harinya, dan berkeliling kota tersebut. Salah satu alasannya karena penerbangan menuju Surabaya pagi hari.
Sembari menahan kantuk, menikmati perjalanan ke bandara sepinggan (waktu itu bandaranya belum sebagus saat ini) dan syukurlah pesawat tidak delay . Lama penerbangan sekitar 45 menit-1jam , tertidurlah aku , 30 menit kemudian, dibangunkan oleh pramugari, dengan pemberitahuan bahwa cuaca memburuk, dan dipastikan untuk memeriksa sabuk pengaman masing-masing .
Atmosfer penumpang sudah mulai kurang nyaman, dan langit gelap serta terlihat kilat menyambar-nyambar di kejauhan. Untukku yang duduk di pinggir jendela , pemandangan itu nampak dengan jelas. Kemudian, terdengan pengumuman bahwa 10 menit lagi akan landing di bandara Juanda, Surabaya. Tapi hujan yang turun bertambah deras, kondisi pesawat pun terombang ambingkan angin. Dan juga awan-awan yang semakin mengeras.
Tak beberapa lama berselang, diinfokan bahwa pesawat tidak bisa mendarat dikarenakan kondisi bandara yang tidak memungkinkan , sehingga yang bisa dilakukan pesawat adalah terbang memutari kota Surabaya . Seluruh penumpang terdiam, dan para pramugari kembali mengingatkan bagaimana cara menggunakan pelampung. Semua terlihat tegang .
Beberapa menit kemudian, selang oksigen dijatuhkan , dan seketika semua penumpang menjadi panik. Pilot mengingatkan untuk tetap tenang karena memang pesawat akan didaratkan darurat di bandara . Saat itu, yang bisa kulakukan adalah , berdoa dalam hati, kemudian bersiap membuka fitur kamera handphone di mode video . Kekinian sekali sih pola pikir saya ya. Tapi waktu itu yang terpikir adalah “paling tidak, kalo terjadi apa-apa dengan saya, orang tua saya bisa tau bagaimana semuanya terjadi” , namun syukurlah pesawat mendarat dengan aman dan lancar .
Saat itu, saat-saat terdekatku dengan Tuhan (menurutku) , dimana benar-benar tak ada lagi siapapun yang bisa dimintai tolong, dan hanya bisa berserah kepadaNya . Segitu sayangnya ya Tuhan sama kita. Nah, seberapa sering Tuhan ditinggalkan untuk hal-hal yang jauh lebih tidak penting dibanding kondisi-kondisi “sendirian” itu ?
Hayoo..