Sepasang kekasih yang berada di persimpangan

Kita, sepasang kekasih yang berada di persimpangan..
Kita, duduk diatas motor merah c70..
Mengarungi sudut-sudut kenangan bergoreskan tawa..
Dan segalanya berjalan pelan, senada dengan laju kendaraan yang kita tumpangi.
Kita, sepasang kekasih yang berada di persimpangan..
Mencoba membuat janji pada diri sendiri,
saling menjadi tempat bersandar yang paling lapang,
diatas segala permasalahan yang terpampang..
Kita, sepasang kekasih yang berada di persimpangan,
tak menghiraukan udara yang bersliweran di sekitar..
Kau menjadi oksigen sekaligus paru-paruku,
sehingga aku tak perlu risau untuk bertahan berjuang ..
Kita, sepasang kekasih yang berada di persimpangan,
mulai sadar bahwa hidup terlahir dari peraturan, dan keikhlasan..
Saat kita terhenti di lampu merah, angka berjalan mundur,
seolah mengingatkan kita akan waktu yang kita miliki bersama, semakin berkurang adanya..
Kita, sepasang kekasih yang berada di persimpangan, ternyata kini berhenti berjuang,
justru saat lampu hijau warnanya..
Dan kita, sepasang kekasih yang berada di persimpangan,
mencoba memilih jalur yang harus diselesaikan..
Kita, sepasang kekasih yang berada di persimpangan,
Kini hanya terukir dalam cerita .

Saat aku rindu kamu

Ketika rindu itu datang tiba-tiba dan menyesakkan,
Aku membawanya dalam doa dan sedikit menyisipkan harap.
Meski mungkin doa-doa yang kupanjatkan takkan tersampaikan padamu.
Kata orang, Tuhan kita berbeda,
Aku hidup dengan doktrin visioner dan kamu kotakan penyempurna..
Ya, kotakan itu sering disebut "Agama"..
Sedari lahir, kita sudah saling terkotakkan berbeda-beda,
Dan sudah sewajarnya bukan, kalau rindu dan rasa ikhlas ini harus turut terkotakkan ..
Meski terkadang kotak bisa berasa surga, seperti yang Tulus ulaskan di lirik "sepatu" ..
Tapi kotak lebih banyak bermakna balas budi..
Kalau dulu kita bisa saling menguatkan untuk bertahan ,
maka saat ini kita sedang dituntut untuk bisa saling menguatkan untuk melepaskan.

Terimakasih, kamu ..

Kantong mata, yang kini tanpa absen menggelayut di rupa sayumu ,
seakan ingin mengabarkan, betapa berat penghiburan- penghiburan yang dipaksa diciptakan oleh sebuah keputusan.
Berteman bimbang dan drama kelogisan, kamu bertahan dan meyakinkanku untuk meniti kesepian ini, sendirian.
Terlalu sesak ruangan ini untuk kita berdua, namun juga teramat luas untuk ditempati sendiri.
Pujian penghiburan akan pencapaian bertahan dalam kondisi yang seperti ini, selalu menghiasi pertemuan kita.
Meski tetap ada pedih yang berusaha diselimuti tawa.
Aku merasa bersyukur masih bisa diberikan waktu untuk mencoba melewati hari-hari seperti ini.
Aku hanya ingin ada tawa diantara kita, saat kita bertatap.
Kita pemain drama yang baik, bukankah mengulang prestasi itu tidaklah sulit?
Cukup di saat-saat kita berjumpa..
"Kita bisa memilih jatuh cinta dengan siapa, tapi tak bisa memilih akan menikah dengan siapa" -Sudjiwotedjo-

Hai, rumah..

Kamu rumah dan aku badai yang mencoba menelusup di sela dekapan erat pintu dan jendela-jendelamu ,
Semakin aku mencoba masuk, semakin erat kamu menutup, bahkan menguncinya.
Aku tak punya tangan, sehingga tak mungkin lahir ketukan di daun pintu..
Aku juga tak punya mulut, sekeras apapun aku berteriak memanggilmu, akantetap sia-sia..
Aku cuma punya hati, yang kedinginan disini, menatap kearahmu,
rumah yang hangat..
Dan berharap bisa berteduh disana ..