Sagarmatha Movie

Berkesempatan nonton bareng crew dan rekan-rekan penggemar film lainnya pada Minggu, 01 Desember 2013 , menggelitik saya untuk menuliskan beberapa hal .
1. Tentang film Sagarmatha
Layaknya film-film yang bertemakan tentang alam dan petualangannya, akan ditemui berbagai shot cantik dengan dominasi alam yang menarik pula. Sagamartha yang bermakna kepala langit ini pun tak lepas akan hal tersebut. Mengantarkan kita untuk masuk kedalam perjalanan sinematis berdurasi 98 menit dengan setting India, dan Yogyakarta (Indonesia) .
Menit-menit awal, kita akan berusaha untuk menebak hal-hal apa saja yang hendak terjadi, pembuat memancing persepsi kita akan karya ini dengan menyuguhkan landscape kota India, hiruk pikuk dan tradisinya, salah satu tokoh utama Kirana muncul dengan kameranya dan mengabadikan hal-hal yang terjadi di sekitarnya . Tanpa ada pengenalan lebih jauh, dimunculkanlah tokoh kedua, Sheila dengan identitas laptop dan cerpen. Agaknya pembuat memang ingin memberikan ruang bagi penonton untuk menentukan sendiri karakter para tokoh. Alurnya memang sedikit melompat-lompat, dengan banyaknya shot yang berpindah-pindah dan pengambilan gambar secara close up dari masing-masing tokoh, kecuali ketika mereka bersama . Terasa sedikit janggal dengan ritme komposisi shot yang berulang-ulang . namun konsisten secara penuturan , yakni nuansa backpacker yang sederhana baik dari penginapan dan jenis kendaraan yang dipilih, menolak jasa biro wisata yang melangit dan kenyataan ini terjadi pada semua wisatawan . Sedikit bergeser namun masih dalam batas wajar ketika mereka sebagai turis, hendak berbelanja souvenir khas (anting-anting) dan marijuana yang entah apakah memang dapat semudah itu ditemukan di India.
Sedikit hal yang bertolak belakang, namun tetap bisa diamini adalah cara menentukan keputusan menggunakan koin, apabila dalam pertandingan bola memang ini cara yang paling adil. Namun untuk sebuah pendakian dengan pertaruhan beberapa macam hal?
Kedua karakter sangat impulsif, begitu pula pembuat. Banyak shot-shot yang indah tapi dalam posisi abu-abu, tak ditampilkan pun tak mengapa. Pembibitan konflik yang baru tertanam setelah sepertiga film berjalan. Penonton dibuat sedikit ragu dengan alur dan persepsi awal yang telah di konstruksi. Bebek pak Haji Slamet turut dilibatkan pada titik bahwa melucu itu perlu . meski setelahnya ritme kembali sama.
Film konstan selama sekitar enam puluh menit, struktur dramatik mulai meningkat karena penyimpangan yang terjadi atas kehendak spontan para tokoh , dan dalam waktu ini, film terasa kembali hidup . Bagaimana sebuah persahabatan yang sangat intim, saling menjaga namun tetap bernaung pada ego, layaknya seorang ayah yang memberi peringatan pada anaknya agar tak merokok, namun ia juga sembari merokok.
Saat penonton larut dalam kondisi tersebut, cerita bergulir sangat cepat, konflik semakin menguap dengan menunjukkan imajinasi masa lalu , yang diampaiakan sepotong demi sepotong dalam setiap adegan. Sampai pada dialog “Semua manusia pada akhirnya akan sendiri” , ibarat kelambu yang dibuka, seluruh penyelesaian cerita tersibak dengan rapi, dan emosional .
Sagarmatha , ditutup dengan penyelesaian secara visual, sehingga penonton yang sedari awal berpersepsi, harus rela untuk melepas persepsinya, dan melupakan kejanggalan-kejanggalan diawal. Menurut saya, film ini selesai dengan manis. Dan kekesalan yang jadi pertanyaan seiring berjalannya film, perlahan pun selesai. Film ini layak ditonton bersama sahabat ataupun bagi yang menyukai perjalanan.
2. Tentang Diskusi Sagarmatha
Selesai menonton film, kita diajak marathon ke Bjong Cafe, di Nologaten (Yogyakarta) untuk sesi diskusi, lengkap seluruh cast dan crew. Pengunjung pun terlihat sangat antusias untuk berdiskusi tentang film Sagamartha, meski sebagian besar belum menonton filmnya. Mungkin karena ada cast nya. Hal yang sebenarnya tak perlu dibahas bukan? Hehe
Dari beberapa pertanyaan yang tersampaikan, berikut beberapa hal yang terangkum dan menurut saya patut untuk disampaiakan ulang :
Film Sagarmatha, pada dasarnya adalah pertemanan. Disini mereka bisa berdiskusi bersama, mewujudkan mimpi-mimpi yang telah dipupuk sebelumnya dan ingin menyebarkan jiwa positif, keinginan adalah segala-galanya . Tanpa mendapat sponsor pun, toh film juga akhirnya bisa selesai , dan ini karena semangat serta harapan yang tak pernah usai . yang kedua, penggambaran lokasi secara landscape, menyoroti tentang tatakota dan budaya yang ada di negara lain, menyadarkan kita bahwa sebenarnya Indonesia merupakan negara yang memiliki alam sangat kaya . seyogyanyalah kita dapat melestarikan dan mengemasnya menjadi suatu hal yang menarik.
Kemudian, mensiasati keimpulsifan pembuat yang memang belum pernah datang langsung ke lokasi, ada baiknya tak perlu berimajinasi terlalu tinggi pada awalnya. Ketika telah sampai, barulah membuka diri dan peka terhadap hal-hal apa saja yang ada di sekitar, mana yang dapat diambil dan dikulik serta tetap tank melupakan keterbatasan alat, terutama baterai dan memory .
Film fiksi dengan pendekatan dokumenter ini memiliki perlakuan khusus dibanding film fiksi kebanyakan . Nyawa memang dibangun ketika pra produksi, memegang teguh konten dasar dan mengaplikasikannya dalam pengadeganan yang sesuai. Namun, yang membuat film ini jauh lebih hidup yakni proses editing , merangkai dan membuat cerita jadi semakin tepat .
Terima kasih telah menyimak ulasan yang masih sangat amatir ini.