Berapa kali dalam sehari, Tuhan menghela nafas?

(Tulisan ini saya buat pada akhir Januari 2013, dan baru menemukan letak penyimpanan file secara tidak sengaja, hari ini, 25 November 2013)
Beberapa hari terakhir, mendapat sebuah mandat baru untuk mengelola online shop . Sampai di hari ini, 24 Januari, saya mendedikasikan diri untuk mengerjakan pekerjaan “tambahan” tersebut . Sedari pagi, terbangun oleh nada-nada asing dari perangkat yang memang disediakan khusus untuk melengkapi tugas , kalau istilahnya yakni bunyi “ping” bertalu-talu, tentunya karena ini hari libur .
Beberapa akun mempertanyakan beberapa hal yang berbeda, dan membuat saya mau tak mau mengendarai kendaraan menuju gerai untuk melayani setiap permintaan foto dan pertanyaan mengenai harga. Beberapa memang cukup puas dengan sekali dan dua kali bertanya, kemudian dengan cepat mengambil keputusan. Sampai tersisa dua orang pejuang yang sedang memperjuangkan budget yang dimiliki guna mendapatkan barang yang paling sesuai .. saya menghela nafas..
Dimulai dari cloth, saya melayangkan foto satu per satu, berdasarkan desain, warna, ukuran yang diinginkan. Kemudian beranjak ke non-cloth, tetap tugas utama yang di emban dijalankan, sembari mendeskripsikan bagaimana produk-produk tersebut .. saya menghela nafas kembali..
Tahap berikutnya adalah tawar menawar harga, disini saya menghela nafas untuk kesekian kalinya, lelah mulai terasa, tapi memang sabar adalah kuncinya .. mengingat, saya membantu menjual produk dengan menjual jasa saya .
Kemudian, perubahan-perubahan keinginan, kembali mengulang beberapa penawaran dari semula, dengan negosiasi yang dimulai dari nol kembali guna mendapatkan kesepakatan yang paling ideal .. saya menghela nafas lagi ..
Melirik bebrapa catatan janji dan waktu, sebenarnya saya harus segera berpindah ke lokasi lain, akan tetapi negosiasi yang panjang dan berbelit ini membuat saya tertahan disini. Saya mulai capek, dengan ketidakpastian yang dibiarkan mengambang, serba salah ketika ingin beranjak. Masih dengan helaan nafas, saya mencoba bertahan dan terpaksa membatalkan beberapa janji yang sudah ada .
Sempat diselingi dengan beberapa rekan yang datang dan membicarakan hal lain, main job saya, nafas sedikit berat karena dri sini diharuskan membuat ranting pemikiran di otak saya , dengan multitasking yang terbata-bata masih juga sembari melayani percakapan dengan konsumen saya .
Tak lama berselang, salah satunya telah menentukan pilihan, dan merelakan goalnya dengan 2 buah barang diantara seluruh produk yang telah dijelajahinya , perlahan hembusan nafas saya terasa sedikit lebih ringan ..
Waktu semakin berjalan, matahari meredup dan saya memutuskan untuk pulang dan beristirahat dikamar kost saja, akan tetapi masih tersisa percakapan dengan satu konsumen lagi , kembali menghela nafas, hanya saja kali ini dengan merebahkan badan . 23:23 X : “sist, saya cpek nih dari tadi harus lihat barang-barang terus, banyak juga ya ternyata” Saya : “memang puan, (dalam hati : aku jauh lebih capek lho) jadi sudahkah puan menentukan pilihan?” X : “ ehmm.. saya nunggu suami pulang dari dinas keluar kota minggu depan ya, nanti saya kabari lagi” Saya : “baik, saya nanti ya puan, terima kasih dan selamat malam” sembari menghela nafas panjang . Kemudian obrolan hari ini pun diakhiri . Nah, mungkin deskripsi saya diatas sangat membosankan dan tidak jelas, tapi penutup ini wajib disimak.
Kalau kita, jadi manusia saja menghadapi 1 orang semacam itu, sudah membuat helaan nafas berkali-kali, menghilangkan selera makan dan membuat hari libur jadi tak nyaman, bagaimana dengan hari-hari Tuhan ? pernahkan dibayangkan berapa kali helaan nafas tersebut dalam suatu waktu, yang bahkan kita tahu kita sering sekali bersikap persis seperti konsumen tersebut . Nah ...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar