Yang Manakah Festival Filmmu ?

Siang ini, ketika makan siang, secara tidak sengaja saya membaca kultwit dari @mahesadesaga , akan saya coba ceritakan ulang beserta pendapat saya mengenai hal tersebut . 29 point yang dia sampaikan yakni :
1. Awalnya saya dikontak rekan2 penyelenggara Olimpiade Brawijaya untuk bergabung sebagai dewan juri cabang sinematografi #OBSinematografi
2. Disana saya bergabung bersama Mas Ming (praktisi film MLG) dan Tosa (ketua 0 derajat, UKM sinematografi UB) #OBSinematografi
3. Sedari awal saya dan rekan2 juri sudah menyadari bahwa film yg akan masuk dari peserta bukanlah film yg sempurna #OBSinematografi
4. Saya pribadi pun menyadari kualitas film akan sangat kurang, karena peserta berasal dari fakultas2 yg jauh dari film #OBSinematografi
5. Maka dari awal sudah saya pertanyakan bagaimana bila dari semua film yg masuk tidak ada yg mendapatkan predikat medali #OBSinematografi
6. Kami pun sedari awal menekankan bahwa film diliat dan dinilai dari kualitas, tidak bisa sembarangan #OBSinematografi
7. Karena apabila tidak ada quality control maka hal tersebut tidak mendorong kemajuan film di MLG khususnya #OBSinematografi
8. Sehingga sedari awalpun kami sudah menyepakati kalau standar kami akan kami pasang serendah mungkin, mengingat poin 4&5 #OBSinematografi
9. Kami puh menegaskan bahwa tidak masalah apabila tidak ada juara di cabang ini,sebagai bentuk quality control kedepannya #OBSinematografi
10. Pihak panitia sempat bingung sebenarnya dengan keputusan kami, namun kami juga sudah memberikan solusi untuk itu #OBSinematografi
11. Kami memberikan opsi predikat Special Mention kepada karya yg menunjukan potensi, hal tersebut pun bisa diterima #OBSinematografi
12. Sebenarnya opsi2 tadi adalah bentuk usaha kami untuk mensupport acara tsb dan terpenting mendukung atmosfer film MLG #OBSinematografi
13. Dan sebenarnya kami tetP memiliki optimisme akan muncul paling tidak 1 karya yg cukup potensial, syukur2 memang baik #OBSinematografi
14. Pada akhirnya film2 yg akan dinilai terkumpul, ada 7 film dari 7 fakultas yg masuk meja penilaian #OBSinematografi
15. Dan yg menjadi kekhawatiran pun terjadi, bahwa tidak ada 1 film pun yg layak untuk diberikan predikat juara #OBSinematografi
16. Bahkan untuk predikat Special Mention pun tidaklah ada yg layak 1 karyapun #OBSinematografi
17. Sesuai dengan kesepakatan awal, dan bentuk tanggung jawab kami, kami dengan TEGAS, TIDAK mengadakan JUARA #OBSinematografi
18. Namun, sepertinya rekan2 komite Olimpiade Brawijaya berat dengan keputusan kami. Mereka menginginkan ada juara #OBSinematografi
19. Negosiasi pun terjadi antara kami tim juri dengan ketua panitia OB. Karena berat dg keputusan kami, dimunculkan opsi #OBSinematografi
20. Opsi yg kami berikan adalah, keputusan ada di tangan tim juri atau keputusan dikembalikan ke panitia #OBSinematografi
21. Pada akhirnya ketua panitia memilih KEPUTUSAN DIKEMBALIKAN KE PANITIA, hal yg biasa terjadi sebenarnya #OBSinematografi
22. Dengan opsi tsb yg dipilih, maka kami sudah secara otomatis BUKAN LAGI TIM JURI, krn kami TIDAK mengeluarkan keputusan #OBSinematografi
23. Sehingga kami MENEGASKAN, segala macam KEPUTUSAN tentang ajang tsb BUKAN LAGI KEPUTUSAN KAMI #OBSinematografi
24. Segala macam keputusan yg DIAMBIL, merupakan KEPUTUSAN PANITIA Olimpiade Brawijaya #OBSinematografi
25. Kami juga tidak menyayangkan ataupun menuntut terkait ajang tsb,tulisan ini pun bukan untuk menjelekan pihak2 tertentu #OBSinematografi
26. Kami menyadari ini ajang mahasiswa, dengan segala problematika mahasiswa, namun film juga harus dijaga kualitasnya #OBSinematografi
27. TIDAK adanya JUARA sesuai keputusan kami, merupakan bentuk TANGGUNG JAWAB kami kepada semua pihak #OBSinematografi
28. Namun, keputusan kami memang belum bisa diterima oleh panitia sehingga dikembalikan SEGALA KEPUTUSAN KE PANITIA #OBSinematografi
29. Sekali lagi tulisan ini bukan untuk menyudutkan pihak siapapun,namun sebagai bentuk informasi&pembelajaran buat semua #OBSinematografi
Penyelenggaraan sebuah festival, olimpiade, lomba,kompetisi film, dan segala bentuk bungkus untuk menyampaikan sebuah perlombaan akan sebuah karya (disini khususnya audio visual dan lebih spesifik lagi film) , akhir-akhir ini sudah semakin menjamur pun salah kaprah yang berbudaya .
Segala pohon tak akan tumbuh tanpa adanya benih, begitu pula sebuah kompetisi tak akan lahir tanpa ada tujuan yang jelas. Dalam penyelenggaraan festival, tujuannya bisa saja dibagi menjadi 3 :
1. Prestise
2. Pesanan sponsor
3. Menciptakan media apresiasi dan berjejaring.
Yuk kita ungkap satu per satu. Prestise, kegiatan yang dilakukan ini memang semata-mata untuk ajang unjuk diri, agar dipandang oleh pihak lain, mencoba membangun eksistensi dan juga pencitraan di mata banyak orang . Biasanya acara yang dasarnya saja sudah seperti ini, secara proses maupun secara kualitas internal malah jadinya kacau. Tapi secara visual (bisa dari dekor, lokasi, dresscode, pengisi acara, dll) akan jauh lebih mewah . Dan target audience dari acara ini lebih ke anak-anak yang sangat kekinian, dan sekedar muncul agar tak dianggap kuper. Sebagai contoh, pemutaran film yang pakai tema, di lokasi panitia semua panitianya pakai dresscode sesuai dengan tema, bahkan perlu berdandan ke salon untuk mempercantik penampilan, setting lokasi, dibuat semeriah mungkin bahkan menyerupai karnaval, kemudian pengunjung diberi sajian-sajian yang enak-enak . Namun, teknis pemutaran kacau, proyektor yang dipakai tidak sesuai dengan spesifikasi lokasi, karya-karya yang diputar terkadang tersendat di tengan pemutaran, sound yang dipakai bisa saja ngasal . Tapi hal tersebut tak perlu dirisaukan, yang penting acara berlangsung, dan dihadiri oleh banyak pihak, mengadakan pers conference agar diliput banyak media. Sudah beres. Oh iya, ada juga lho beberapa brand besar yang memanfaatkan euforia seperti ini untuk aktivitas mereka , dengan menyisipkan diri untuk mensupport penyelenggara acara, ya siapa tau mendapat nilai plus dari khalayak . Pemenang untuk kategori ini, bisa dipilih secara suka-suka, asalkan seru saja kan.
Yang kedua, acara pemutaran yang memang dilahirkan oleh brand tertentu , ya memang tujuannya promosi . Jadi jangan kaget kalo dekorasi sampai bumper pun isinya tentang brand tersebut . Tak jarang kok film yang diputar justru film yang oke, pembicaranya juga.. jadi kalo pas datang di acara yang sejenis ini, kita memang harus sudah siap dengan hal-hal tersebut . Oh iya, untuk pemenang kategori ini, tentunya perwalian dari brand yang bisa menentukan, karena nantinya karya pemenang adalah karya yang harus mampu menjadi “wajah” dari brand/corporate tersebut .
Yang ketiga, esensi sebenarnya dari pemutaran film, dimana ada apresiasi terhadap pembuat dan penonton . Film diprogram khusus agar penonton dipermudah memilih apa saja yang akan mereka saksikan . Dalam program, ada tema, keterkaitan, klasifikasi usia, dan juga struktur acara pada setiap sesinya. Kompetisi pun dilakukan lebih fair, yakni melalui beberapa tahapan, seperti seleksi administrasi, kurasi dan juga penjurian utama . Dimana mereka memiliki peran masing-masing dalam menentukan siapa saja yang layak berkompetisi dan juga menjadi juara. Disini, tahap penilaian terhadap karya dipandang dari sudut yang bermacam-macam. Bagian administrasi, menilai film secara kelengkapan persyaratan yang sudah ditetapkan panitia dan lancar/tidaknya karya tersebut diputar. Pada bagian kurasi, menilai film dalam skala yang lebih sempit, yakni kesesuaian dengan tema (kalau pake tema), kemudian antara data yang telah lolos dari seleksi administrasi dengan kenyataan yang berhubungan dengan film (biasanya mengenai keorisinalitasan materi yang digunakan, dan juga surat ijin penggunaan materi apabila yang dipakai adalah milik orang lain) , mereka dapat mengklasifikasikan film-film mana sajakah yang bisa masuk ke kompetisi , dan mana yang tak bisa, namun masih layak putar dan mana yang memang tak layak untuk diputar. Nah pada tahapan penjurian utama ini, film akan dibedah sesuai dengan spesifikasi juri, dari teknis, cerita, estetika, kebudayaan, relevansi dan meramal juga untuk “umur” film tersebut setelah keluar dari sebuah festival . Teknis penyelenggaraan acara pun diperhatikan betul, dari pemilihan paralatan (screen, proyektor,sound) , susunan acara , dan juga materi film yang akan diputar , lokasi (termasuk penataan kursi dan gelap tidaknya ruangan) , Berusaha disajikan senyaman mungkin untuk menonton, sehingga pembuat film merasa bahwa film yang telah dia kerjakan diapresiasi dengan baik, dan juga penonton dapat menikmati menonton dengan nyaman. Nah, bonus dari kehadiran jenis festival yang ketiga ini yakni jaringan . Tak ayal, pembuat film dari berbagai kota berkumpul bersama sehingga pengunjung pun dapat saling bertukar info dan mendapatkan teman-teman yang baru dalam bidang yang sama.
Mengenai pemenang, minimal telah dipikirkan kedua hal berikut : Dari sisi pembuat acara : pemenang dapat menjadi cerminan karakter dari acara yang diadakan , dan juga dapat membantu PR dari penyelenggara yakni meneruskan karya tersebut pada khalayak yang lebih luas, nah hal ini akan sangat didukungdari olah rasa dari para juri, sehingga film yang menjadi pemenang tersebut merupakan karya yang bisa diterima di masyarakat, dan sepatutnyalah juri membantu mengerjakan PR dari pembuat acara tentunya . Jenis acara yang ketiga inipun bisa juga bentuk perayaan puncak dari pemutaran reguler yang telah dijalankan sebelumnya.
Nah, apabila kembali lagi pada topik Mahesa tadi, sebelum komentarnya semakin melantur, ada baiknya kita menanyakan kembali, Ada di posisi manakah festival/olimpiade tersebut ?