Sagarmatha Movie

Berkesempatan nonton bareng crew dan rekan-rekan penggemar film lainnya pada Minggu, 01 Desember 2013 , menggelitik saya untuk menuliskan beberapa hal .
1. Tentang film Sagarmatha
Layaknya film-film yang bertemakan tentang alam dan petualangannya, akan ditemui berbagai shot cantik dengan dominasi alam yang menarik pula. Sagamartha yang bermakna kepala langit ini pun tak lepas akan hal tersebut. Mengantarkan kita untuk masuk kedalam perjalanan sinematis berdurasi 98 menit dengan setting India, dan Yogyakarta (Indonesia) .
Menit-menit awal, kita akan berusaha untuk menebak hal-hal apa saja yang hendak terjadi, pembuat memancing persepsi kita akan karya ini dengan menyuguhkan landscape kota India, hiruk pikuk dan tradisinya, salah satu tokoh utama Kirana muncul dengan kameranya dan mengabadikan hal-hal yang terjadi di sekitarnya . Tanpa ada pengenalan lebih jauh, dimunculkanlah tokoh kedua, Sheila dengan identitas laptop dan cerpen. Agaknya pembuat memang ingin memberikan ruang bagi penonton untuk menentukan sendiri karakter para tokoh. Alurnya memang sedikit melompat-lompat, dengan banyaknya shot yang berpindah-pindah dan pengambilan gambar secara close up dari masing-masing tokoh, kecuali ketika mereka bersama . Terasa sedikit janggal dengan ritme komposisi shot yang berulang-ulang . namun konsisten secara penuturan , yakni nuansa backpacker yang sederhana baik dari penginapan dan jenis kendaraan yang dipilih, menolak jasa biro wisata yang melangit dan kenyataan ini terjadi pada semua wisatawan . Sedikit bergeser namun masih dalam batas wajar ketika mereka sebagai turis, hendak berbelanja souvenir khas (anting-anting) dan marijuana yang entah apakah memang dapat semudah itu ditemukan di India.
Sedikit hal yang bertolak belakang, namun tetap bisa diamini adalah cara menentukan keputusan menggunakan koin, apabila dalam pertandingan bola memang ini cara yang paling adil. Namun untuk sebuah pendakian dengan pertaruhan beberapa macam hal?
Kedua karakter sangat impulsif, begitu pula pembuat. Banyak shot-shot yang indah tapi dalam posisi abu-abu, tak ditampilkan pun tak mengapa. Pembibitan konflik yang baru tertanam setelah sepertiga film berjalan. Penonton dibuat sedikit ragu dengan alur dan persepsi awal yang telah di konstruksi. Bebek pak Haji Slamet turut dilibatkan pada titik bahwa melucu itu perlu . meski setelahnya ritme kembali sama.
Film konstan selama sekitar enam puluh menit, struktur dramatik mulai meningkat karena penyimpangan yang terjadi atas kehendak spontan para tokoh , dan dalam waktu ini, film terasa kembali hidup . Bagaimana sebuah persahabatan yang sangat intim, saling menjaga namun tetap bernaung pada ego, layaknya seorang ayah yang memberi peringatan pada anaknya agar tak merokok, namun ia juga sembari merokok.
Saat penonton larut dalam kondisi tersebut, cerita bergulir sangat cepat, konflik semakin menguap dengan menunjukkan imajinasi masa lalu , yang diampaiakan sepotong demi sepotong dalam setiap adegan. Sampai pada dialog “Semua manusia pada akhirnya akan sendiri” , ibarat kelambu yang dibuka, seluruh penyelesaian cerita tersibak dengan rapi, dan emosional .
Sagarmatha , ditutup dengan penyelesaian secara visual, sehingga penonton yang sedari awal berpersepsi, harus rela untuk melepas persepsinya, dan melupakan kejanggalan-kejanggalan diawal. Menurut saya, film ini selesai dengan manis. Dan kekesalan yang jadi pertanyaan seiring berjalannya film, perlahan pun selesai. Film ini layak ditonton bersama sahabat ataupun bagi yang menyukai perjalanan.
2. Tentang Diskusi Sagarmatha
Selesai menonton film, kita diajak marathon ke Bjong Cafe, di Nologaten (Yogyakarta) untuk sesi diskusi, lengkap seluruh cast dan crew. Pengunjung pun terlihat sangat antusias untuk berdiskusi tentang film Sagamartha, meski sebagian besar belum menonton filmnya. Mungkin karena ada cast nya. Hal yang sebenarnya tak perlu dibahas bukan? Hehe
Dari beberapa pertanyaan yang tersampaikan, berikut beberapa hal yang terangkum dan menurut saya patut untuk disampaiakan ulang :
Film Sagarmatha, pada dasarnya adalah pertemanan. Disini mereka bisa berdiskusi bersama, mewujudkan mimpi-mimpi yang telah dipupuk sebelumnya dan ingin menyebarkan jiwa positif, keinginan adalah segala-galanya . Tanpa mendapat sponsor pun, toh film juga akhirnya bisa selesai , dan ini karena semangat serta harapan yang tak pernah usai . yang kedua, penggambaran lokasi secara landscape, menyoroti tentang tatakota dan budaya yang ada di negara lain, menyadarkan kita bahwa sebenarnya Indonesia merupakan negara yang memiliki alam sangat kaya . seyogyanyalah kita dapat melestarikan dan mengemasnya menjadi suatu hal yang menarik.
Kemudian, mensiasati keimpulsifan pembuat yang memang belum pernah datang langsung ke lokasi, ada baiknya tak perlu berimajinasi terlalu tinggi pada awalnya. Ketika telah sampai, barulah membuka diri dan peka terhadap hal-hal apa saja yang ada di sekitar, mana yang dapat diambil dan dikulik serta tetap tank melupakan keterbatasan alat, terutama baterai dan memory .
Film fiksi dengan pendekatan dokumenter ini memiliki perlakuan khusus dibanding film fiksi kebanyakan . Nyawa memang dibangun ketika pra produksi, memegang teguh konten dasar dan mengaplikasikannya dalam pengadeganan yang sesuai. Namun, yang membuat film ini jauh lebih hidup yakni proses editing , merangkai dan membuat cerita jadi semakin tepat .
Terima kasih telah menyimak ulasan yang masih sangat amatir ini.

Berapa kali dalam sehari, Tuhan menghela nafas?

(Tulisan ini saya buat pada akhir Januari 2013, dan baru menemukan letak penyimpanan file secara tidak sengaja, hari ini, 25 November 2013)
Beberapa hari terakhir, mendapat sebuah mandat baru untuk mengelola online shop . Sampai di hari ini, 24 Januari, saya mendedikasikan diri untuk mengerjakan pekerjaan “tambahan” tersebut . Sedari pagi, terbangun oleh nada-nada asing dari perangkat yang memang disediakan khusus untuk melengkapi tugas , kalau istilahnya yakni bunyi “ping” bertalu-talu, tentunya karena ini hari libur .
Beberapa akun mempertanyakan beberapa hal yang berbeda, dan membuat saya mau tak mau mengendarai kendaraan menuju gerai untuk melayani setiap permintaan foto dan pertanyaan mengenai harga. Beberapa memang cukup puas dengan sekali dan dua kali bertanya, kemudian dengan cepat mengambil keputusan. Sampai tersisa dua orang pejuang yang sedang memperjuangkan budget yang dimiliki guna mendapatkan barang yang paling sesuai .. saya menghela nafas..
Dimulai dari cloth, saya melayangkan foto satu per satu, berdasarkan desain, warna, ukuran yang diinginkan. Kemudian beranjak ke non-cloth, tetap tugas utama yang di emban dijalankan, sembari mendeskripsikan bagaimana produk-produk tersebut .. saya menghela nafas kembali..
Tahap berikutnya adalah tawar menawar harga, disini saya menghela nafas untuk kesekian kalinya, lelah mulai terasa, tapi memang sabar adalah kuncinya .. mengingat, saya membantu menjual produk dengan menjual jasa saya .
Kemudian, perubahan-perubahan keinginan, kembali mengulang beberapa penawaran dari semula, dengan negosiasi yang dimulai dari nol kembali guna mendapatkan kesepakatan yang paling ideal .. saya menghela nafas lagi ..
Melirik bebrapa catatan janji dan waktu, sebenarnya saya harus segera berpindah ke lokasi lain, akan tetapi negosiasi yang panjang dan berbelit ini membuat saya tertahan disini. Saya mulai capek, dengan ketidakpastian yang dibiarkan mengambang, serba salah ketika ingin beranjak. Masih dengan helaan nafas, saya mencoba bertahan dan terpaksa membatalkan beberapa janji yang sudah ada .
Sempat diselingi dengan beberapa rekan yang datang dan membicarakan hal lain, main job saya, nafas sedikit berat karena dri sini diharuskan membuat ranting pemikiran di otak saya , dengan multitasking yang terbata-bata masih juga sembari melayani percakapan dengan konsumen saya .
Tak lama berselang, salah satunya telah menentukan pilihan, dan merelakan goalnya dengan 2 buah barang diantara seluruh produk yang telah dijelajahinya , perlahan hembusan nafas saya terasa sedikit lebih ringan ..
Waktu semakin berjalan, matahari meredup dan saya memutuskan untuk pulang dan beristirahat dikamar kost saja, akan tetapi masih tersisa percakapan dengan satu konsumen lagi , kembali menghela nafas, hanya saja kali ini dengan merebahkan badan . 23:23 X : “sist, saya cpek nih dari tadi harus lihat barang-barang terus, banyak juga ya ternyata” Saya : “memang puan, (dalam hati : aku jauh lebih capek lho) jadi sudahkah puan menentukan pilihan?” X : “ ehmm.. saya nunggu suami pulang dari dinas keluar kota minggu depan ya, nanti saya kabari lagi” Saya : “baik, saya nanti ya puan, terima kasih dan selamat malam” sembari menghela nafas panjang . Kemudian obrolan hari ini pun diakhiri . Nah, mungkin deskripsi saya diatas sangat membosankan dan tidak jelas, tapi penutup ini wajib disimak.
Kalau kita, jadi manusia saja menghadapi 1 orang semacam itu, sudah membuat helaan nafas berkali-kali, menghilangkan selera makan dan membuat hari libur jadi tak nyaman, bagaimana dengan hari-hari Tuhan ? pernahkan dibayangkan berapa kali helaan nafas tersebut dalam suatu waktu, yang bahkan kita tahu kita sering sekali bersikap persis seperti konsumen tersebut . Nah ...

Customer service itu melayani atau menghafal ?

Siang tadi, secara sengaja saya menuju salah satu convenience store untuk membeli minuman dingin . dan teman saya berniat membeli pulsa. Ketika masuk saya langsung menuju lemari pendingin dan teman saya menuju kasir untuk menanyakan perihal pulsa. Kasir menjawab “ waduh, mohon maaf, sedang ada masalah untuk proses pengisian pulsa, sehingga untuk sementara waktu masih belum bisa melayani “ .
Karena tidak mendapat apa yang ia butuhkan, kemudian teman menyusul saya dan memilih minuman beserta camilan. Tak lama berselang, kita berjalan menuju ke kasir untuk menyelesaikan pembayaran, kasir berucap : “sudahkah belanjanya? Apakah tidak ingin menambah hal lain? Pulsanya sekalian mungkin? “ , spontan teman saya menjawab “Lhoh, pulsanya sudah bisa ya mbak? “ . Dengan muka merah padam mbak-mbak kasir meralat ucapannya .
Nah, seberapa sering kita mengalami hal diatas? , entah kenapa, kok akhir-akhir ini saya sering sekali ya mendapati hal seperti itu. Padahal ini berkaitan erat dengan hubungan kekerabatan dan kepuasan konsumen lho . Ketika konsumen menginginkan sesuatu pasti sudah memiliki ekspektasi yang lebih tinggi dibanding yang tertarik secara spontan. Contoh kasus diatas, merupakan salah satu hal yang sangat ringan, karena toh pulsa pun bisa didapat dimana-mana. Lha kalau pada produk cloth atau noncloth ? atau pada product yang handmade dengan skala produksi kecil? Imbasnya akan berbeda.
Kalau bahasa gaulnya sekarang, PHP (Pemberi Harapan palsu) , melibatkan komunikator dan komunikan dengan dampak timpangnya rasa puas. Begitupula dengan hal-hal yang sejenis contoh kasus diatas. Jadi, siapa yang juga sering mengalami hal seperti saya ?

Saya, 24 Tahun..

Iya, hari ini tepat pada hari dimana saya dilahirkan . Saya bersyukur masih diberi kesempatan untuk terus menapaki tangga kehidupan. Tadi pagi, saya sempat menengok catatan kecil yang tergores tahun lalu. H.A.R.A.P.A.N .. meski lebih banyak yang belum terwujud sih.. Tapi, sudah ritual bukan, kalau saya harus menambahkan goresan lagi ? :)
Saya, 24 Tahun , menyadari hampir seperempat abad saya ditempa menjadi manusia, mencoba mengikuti alur yang Dia petakan untuk saya, apapun itu ..
Saya, 24 tahun .. lagi-lagi belum bisa membawa kegembiraan akan sebuah pengharapan yang dititipkan ibu pada bangku pendidikan, belum pula di pekerjaan, apalagi di masa depan yang mapan..
Saya , 24 tahun , takkan pernah ada artinya tanpa segala pihak yang selalu mendukung dan menasihati saya .. Mommy, yang masih terus bersabar menanti realisasi janji-janji saya , @Restuoni untuk kesabaran yang berlebih beberapa tahun terakhir ini, yang tak henti-hentinya mengingatkan saya untuk terus meredam emosi dan kembali berjuang menghadapi segala hal yang "menjatuhkan" saya .. Bekecot ( @Tiasukma @desylandasary @Yethiika @Nenakisna @erdhaasmara @roedyndoets @arypoenya @endrip ) atas pendampingannya dan semangatnya untuk saya terus menemukan apa yang dimaksud dalam hidup.. arti sahabat :') .. Match production ( @dhilaomorfi @haitomi @memedhe @hasrulaza @retnoari @rosekalimullah) untuk "Rumah kedua-nya" .. teman-teman grup whatsapp dan line ( @dennyeko @cillatirta @inal91 @ggmuk @mantapjaya @aroom_ai @nasich_) untuk brainstorm di segala waktu dan medan, serta semangatnya untuk terus belajar .. Keluarga @Dagadudjokdja yang mendidik saya menjadi lebih dewasa dan mandiri Teman-teman seruangan marketing + kreatif atas tawa tiada hentinya :) .. @ilf_js0759 yang selalu mengingatkan ketika saya melenceng dari rules.. Mas arfan dan mas yani yang selalu menarik saya kembali pada dunia yang saya pernah membangunnya bertahun-tahun kemarin.. Tim hore di @akberjogja dan #Rabosoto .. ah, masih terlalu banyak yang harus saya sebutkan, tapi alangkah baiknya jika tindakan saya yang membuktikan rasa terima kasih itu kawan..
saya 24 tahun , menyadari bahwa terlampau banyak hal yang belum saya jalankan dengan baik.. saya rindu untuk jadi lebih baik lagi , menyelesaikan skripsi saya , dapat memenuhi janji untuk tidak mengeluh , menjadi pribadi yang menyenangkan untuk segala pihak, berjuang lebih keras lagi untuk mengejar impian, Belajar leih patuh pada apa yang Tuhan mau saya alami dan kerjakan .. Dan saya masih berharap pula, seluruh teman-teman bersedia meng-amini segala harapan saya tersebut ..
Saya , 24 tahun kini .. dan saya berterima kasih untuk kalian semua :') .. God bles u all guys ..

Yang Manakah Festival Filmmu ?

Siang ini, ketika makan siang, secara tidak sengaja saya membaca kultwit dari @mahesadesaga , akan saya coba ceritakan ulang beserta pendapat saya mengenai hal tersebut . 29 point yang dia sampaikan yakni :
1. Awalnya saya dikontak rekan2 penyelenggara Olimpiade Brawijaya untuk bergabung sebagai dewan juri cabang sinematografi #OBSinematografi
2. Disana saya bergabung bersama Mas Ming (praktisi film MLG) dan Tosa (ketua 0 derajat, UKM sinematografi UB) #OBSinematografi
3. Sedari awal saya dan rekan2 juri sudah menyadari bahwa film yg akan masuk dari peserta bukanlah film yg sempurna #OBSinematografi
4. Saya pribadi pun menyadari kualitas film akan sangat kurang, karena peserta berasal dari fakultas2 yg jauh dari film #OBSinematografi
5. Maka dari awal sudah saya pertanyakan bagaimana bila dari semua film yg masuk tidak ada yg mendapatkan predikat medali #OBSinematografi
6. Kami pun sedari awal menekankan bahwa film diliat dan dinilai dari kualitas, tidak bisa sembarangan #OBSinematografi
7. Karena apabila tidak ada quality control maka hal tersebut tidak mendorong kemajuan film di MLG khususnya #OBSinematografi
8. Sehingga sedari awalpun kami sudah menyepakati kalau standar kami akan kami pasang serendah mungkin, mengingat poin 4&5 #OBSinematografi
9. Kami puh menegaskan bahwa tidak masalah apabila tidak ada juara di cabang ini,sebagai bentuk quality control kedepannya #OBSinematografi
10. Pihak panitia sempat bingung sebenarnya dengan keputusan kami, namun kami juga sudah memberikan solusi untuk itu #OBSinematografi
11. Kami memberikan opsi predikat Special Mention kepada karya yg menunjukan potensi, hal tersebut pun bisa diterima #OBSinematografi
12. Sebenarnya opsi2 tadi adalah bentuk usaha kami untuk mensupport acara tsb dan terpenting mendukung atmosfer film MLG #OBSinematografi
13. Dan sebenarnya kami tetP memiliki optimisme akan muncul paling tidak 1 karya yg cukup potensial, syukur2 memang baik #OBSinematografi
14. Pada akhirnya film2 yg akan dinilai terkumpul, ada 7 film dari 7 fakultas yg masuk meja penilaian #OBSinematografi
15. Dan yg menjadi kekhawatiran pun terjadi, bahwa tidak ada 1 film pun yg layak untuk diberikan predikat juara #OBSinematografi
16. Bahkan untuk predikat Special Mention pun tidaklah ada yg layak 1 karyapun #OBSinematografi
17. Sesuai dengan kesepakatan awal, dan bentuk tanggung jawab kami, kami dengan TEGAS, TIDAK mengadakan JUARA #OBSinematografi
18. Namun, sepertinya rekan2 komite Olimpiade Brawijaya berat dengan keputusan kami. Mereka menginginkan ada juara #OBSinematografi
19. Negosiasi pun terjadi antara kami tim juri dengan ketua panitia OB. Karena berat dg keputusan kami, dimunculkan opsi #OBSinematografi
20. Opsi yg kami berikan adalah, keputusan ada di tangan tim juri atau keputusan dikembalikan ke panitia #OBSinematografi
21. Pada akhirnya ketua panitia memilih KEPUTUSAN DIKEMBALIKAN KE PANITIA, hal yg biasa terjadi sebenarnya #OBSinematografi
22. Dengan opsi tsb yg dipilih, maka kami sudah secara otomatis BUKAN LAGI TIM JURI, krn kami TIDAK mengeluarkan keputusan #OBSinematografi
23. Sehingga kami MENEGASKAN, segala macam KEPUTUSAN tentang ajang tsb BUKAN LAGI KEPUTUSAN KAMI #OBSinematografi
24. Segala macam keputusan yg DIAMBIL, merupakan KEPUTUSAN PANITIA Olimpiade Brawijaya #OBSinematografi
25. Kami juga tidak menyayangkan ataupun menuntut terkait ajang tsb,tulisan ini pun bukan untuk menjelekan pihak2 tertentu #OBSinematografi
26. Kami menyadari ini ajang mahasiswa, dengan segala problematika mahasiswa, namun film juga harus dijaga kualitasnya #OBSinematografi
27. TIDAK adanya JUARA sesuai keputusan kami, merupakan bentuk TANGGUNG JAWAB kami kepada semua pihak #OBSinematografi
28. Namun, keputusan kami memang belum bisa diterima oleh panitia sehingga dikembalikan SEGALA KEPUTUSAN KE PANITIA #OBSinematografi
29. Sekali lagi tulisan ini bukan untuk menyudutkan pihak siapapun,namun sebagai bentuk informasi&pembelajaran buat semua #OBSinematografi
Penyelenggaraan sebuah festival, olimpiade, lomba,kompetisi film, dan segala bentuk bungkus untuk menyampaikan sebuah perlombaan akan sebuah karya (disini khususnya audio visual dan lebih spesifik lagi film) , akhir-akhir ini sudah semakin menjamur pun salah kaprah yang berbudaya .
Segala pohon tak akan tumbuh tanpa adanya benih, begitu pula sebuah kompetisi tak akan lahir tanpa ada tujuan yang jelas. Dalam penyelenggaraan festival, tujuannya bisa saja dibagi menjadi 3 :
1. Prestise
2. Pesanan sponsor
3. Menciptakan media apresiasi dan berjejaring.
Yuk kita ungkap satu per satu. Prestise, kegiatan yang dilakukan ini memang semata-mata untuk ajang unjuk diri, agar dipandang oleh pihak lain, mencoba membangun eksistensi dan juga pencitraan di mata banyak orang . Biasanya acara yang dasarnya saja sudah seperti ini, secara proses maupun secara kualitas internal malah jadinya kacau. Tapi secara visual (bisa dari dekor, lokasi, dresscode, pengisi acara, dll) akan jauh lebih mewah . Dan target audience dari acara ini lebih ke anak-anak yang sangat kekinian, dan sekedar muncul agar tak dianggap kuper. Sebagai contoh, pemutaran film yang pakai tema, di lokasi panitia semua panitianya pakai dresscode sesuai dengan tema, bahkan perlu berdandan ke salon untuk mempercantik penampilan, setting lokasi, dibuat semeriah mungkin bahkan menyerupai karnaval, kemudian pengunjung diberi sajian-sajian yang enak-enak . Namun, teknis pemutaran kacau, proyektor yang dipakai tidak sesuai dengan spesifikasi lokasi, karya-karya yang diputar terkadang tersendat di tengan pemutaran, sound yang dipakai bisa saja ngasal . Tapi hal tersebut tak perlu dirisaukan, yang penting acara berlangsung, dan dihadiri oleh banyak pihak, mengadakan pers conference agar diliput banyak media. Sudah beres. Oh iya, ada juga lho beberapa brand besar yang memanfaatkan euforia seperti ini untuk aktivitas mereka , dengan menyisipkan diri untuk mensupport penyelenggara acara, ya siapa tau mendapat nilai plus dari khalayak . Pemenang untuk kategori ini, bisa dipilih secara suka-suka, asalkan seru saja kan.
Yang kedua, acara pemutaran yang memang dilahirkan oleh brand tertentu , ya memang tujuannya promosi . Jadi jangan kaget kalo dekorasi sampai bumper pun isinya tentang brand tersebut . Tak jarang kok film yang diputar justru film yang oke, pembicaranya juga.. jadi kalo pas datang di acara yang sejenis ini, kita memang harus sudah siap dengan hal-hal tersebut . Oh iya, untuk pemenang kategori ini, tentunya perwalian dari brand yang bisa menentukan, karena nantinya karya pemenang adalah karya yang harus mampu menjadi “wajah” dari brand/corporate tersebut .
Yang ketiga, esensi sebenarnya dari pemutaran film, dimana ada apresiasi terhadap pembuat dan penonton . Film diprogram khusus agar penonton dipermudah memilih apa saja yang akan mereka saksikan . Dalam program, ada tema, keterkaitan, klasifikasi usia, dan juga struktur acara pada setiap sesinya. Kompetisi pun dilakukan lebih fair, yakni melalui beberapa tahapan, seperti seleksi administrasi, kurasi dan juga penjurian utama . Dimana mereka memiliki peran masing-masing dalam menentukan siapa saja yang layak berkompetisi dan juga menjadi juara. Disini, tahap penilaian terhadap karya dipandang dari sudut yang bermacam-macam. Bagian administrasi, menilai film secara kelengkapan persyaratan yang sudah ditetapkan panitia dan lancar/tidaknya karya tersebut diputar. Pada bagian kurasi, menilai film dalam skala yang lebih sempit, yakni kesesuaian dengan tema (kalau pake tema), kemudian antara data yang telah lolos dari seleksi administrasi dengan kenyataan yang berhubungan dengan film (biasanya mengenai keorisinalitasan materi yang digunakan, dan juga surat ijin penggunaan materi apabila yang dipakai adalah milik orang lain) , mereka dapat mengklasifikasikan film-film mana sajakah yang bisa masuk ke kompetisi , dan mana yang tak bisa, namun masih layak putar dan mana yang memang tak layak untuk diputar. Nah pada tahapan penjurian utama ini, film akan dibedah sesuai dengan spesifikasi juri, dari teknis, cerita, estetika, kebudayaan, relevansi dan meramal juga untuk “umur” film tersebut setelah keluar dari sebuah festival . Teknis penyelenggaraan acara pun diperhatikan betul, dari pemilihan paralatan (screen, proyektor,sound) , susunan acara , dan juga materi film yang akan diputar , lokasi (termasuk penataan kursi dan gelap tidaknya ruangan) , Berusaha disajikan senyaman mungkin untuk menonton, sehingga pembuat film merasa bahwa film yang telah dia kerjakan diapresiasi dengan baik, dan juga penonton dapat menikmati menonton dengan nyaman. Nah, bonus dari kehadiran jenis festival yang ketiga ini yakni jaringan . Tak ayal, pembuat film dari berbagai kota berkumpul bersama sehingga pengunjung pun dapat saling bertukar info dan mendapatkan teman-teman yang baru dalam bidang yang sama.
Mengenai pemenang, minimal telah dipikirkan kedua hal berikut : Dari sisi pembuat acara : pemenang dapat menjadi cerminan karakter dari acara yang diadakan , dan juga dapat membantu PR dari penyelenggara yakni meneruskan karya tersebut pada khalayak yang lebih luas, nah hal ini akan sangat didukungdari olah rasa dari para juri, sehingga film yang menjadi pemenang tersebut merupakan karya yang bisa diterima di masyarakat, dan sepatutnyalah juri membantu mengerjakan PR dari pembuat acara tentunya . Jenis acara yang ketiga inipun bisa juga bentuk perayaan puncak dari pemutaran reguler yang telah dijalankan sebelumnya.
Nah, apabila kembali lagi pada topik Mahesa tadi, sebelum komentarnya semakin melantur, ada baiknya kita menanyakan kembali, Ada di posisi manakah festival/olimpiade tersebut ?