Sup Buah Di Sore Hari

Menjadi tua itu takdir, menjadi dewasa itu pilihan. Mungkin, terlalu banyak orang yang sudah mengamini pengibaratan tadi, termasuk juga diriku. Simpelnya, kita sedang berhadapan menikmati semangkuk sup buah, dengan kuah jus kesukaan masing-masing. Kita tau, tujuan kita untuk mendatangi warung sup buah itu untuk memenuhi kebutuhan akan dahaga. Kita tau resiko harga yang harus dibayar, kesulitan cari tempat parkir, harus menyantap buah yang terasa asam padahal penampilannya cantik, dan mungkin es batu yang dihaluskan terlampau banyak sehingga membuat gigi kita ngilu. Kita tau, ketika kita lepas menikmati sup buah itu, kita akan merasa kenyang, mungkin bisa juga batuk karena tak cocok dengan racikan ramuan di dalamnya. Kita tau, tapi kenapa kita tetap melakukannya ?? Dewasa, bisa dengan mudah menjadi kamuflase kita untuk menentukan sebuah pilihan yang akan dijalani. Dewasa, telah mengalami hal-hal tak sejenis lebih dari sekali. Dewasa, harusnya tak boleh dengan gampang menggeneralisasi apa yang telah dipilih (kembali) meskipun sejenis dengan pesimis. Dewasa, meskipun telah tahu apa yang akan terjadi, masih punya semangat, doa, perjuangan dengan keringat keikhlasan yang masih mampu mengubah apa yang akan terjadi itu. Sejak kecil kita diajarkan memilih, baju apa yang akan kita pakai, teman mana yang akan kita gauli, termasuk juga memilih tempat dimana kita bisa menyantap sup buah sore itu. Setiap pilihan beresiko, setiap lolos dari pilihan mengajarkan hal yang baru bagi kita, bukankah dari situ kita bisa tau kalau tak ada pelajaran yang sama persis porsi pembelajarannya. Termasuk pilihan untuk menjadi dewasa. Aku tak mau memilih menjadi dewasa, begitu juga semua orang. Tapi ketidakmauan sebenarnya adalah kemauan yang tertunda, yang terselimuti oleh rasa takut, takut akan gagal kembali, takut kurang belajar dari apa yang telah dialami. Kemarin kamu mencoba kuah jus apel yang mendominasi, hari ini mangga dan besok jeruk. Akhir dari setiap mangkok yang ditandaskan akan sama, sama-sama kenyang.. tapi proses menikmati setiap bulir buah di perjalanan berbeda, akankah selalu sama? Nah, mungkin disitu titik kedewasaan yang kamu cari. Bukan untuk takut atau lelah menjalani hal yang sama dan berulang, tapi mencatat setiap esensi dari setiap kesempatan itu agar tak mengulangi kesalahan yang serupa. Mungkin, agar tak monoton, kamu bisa mengajakku menemanimu menikmati sup buah lain waktu. Aku mau yang rasa jambu tapi warna ungu :p

Tidak ada komentar:

Posting Komentar