ESENSI CIUMAN

Beberapa menit yang lalu, mendapat pertanyaan tak terduga dari seorang kawan.
Dia berucap, “Esensi dari Ciuman menurutmu itu apa?” , berfikir dan terdiam yang kulakukan. Sedikit kaget dan membongkar imaji, kemudian bertanya pada diri sendiri, apa yang kupikirkan saat aku berciuman ya?? Aku meraba bibirku, mencoba mengajaknya untuk mengulas cerita. Yang di tunjukkan hanya sentuhan, rasa hangat, basah dan deru nafas.
 Namun kembali aku tak dapat menemukan jawaban dari semua rasa itu. Ritual? Bukan.. Rutinitas? Juga bukan.. tapi tetap tak kutemukan definisi yang tepat. Mendadak aku gelisah dan khawatir, takut ada kerusakan dalam memori otak dan memori perasaan sehingga beberapa potongan rasa hidup itu terhapus. Pertanyaan yang dilontarkan bukan pertanyaan sulit bagi beberapa orang, tapi menjadi tank yang membombardirku perlahan dengan pencarian jawaban atasnya.
 Terbatas oleh waktu, pita suara ini melontarkan kategori paling general, “Ciuman itu spesial” . sembari tersenyum penuh kebingungan. Untung saja kawanku tak menangkap keraguan atas ucap dan raut mukaku. Aku mereda, kontraksi otot otak sedikit mengendur, hingga pertanyaan berikutnya terbit. “Kalau kamu melihat lelaki yang kamu kagumi telanjang di depanmu, apa yang kamu lihat pertama kali” . tersenyum dengan mantapnya, aku menjawab “aku melihat matanya.”