percakapan yang tak selesai

X : mentariku hari ini tak mengajarkan sedikitpun senyuman.. ia hanya menangis seharian..
Y : Ambil saja garis matahari dariku, kamu boleh mengambil sesukamu, kalau kamu mau..
X : Tidakkah awan cemburu dengan murahnya hatimu itu?
Y : Garis matahari hanya berteman dengan udara dan langit kosong, tidak ada yang cemburu
X : benarkah ? tapi awan-awan itu selalu menutupimu daripadaku, sehingga aku tak dapat meraih garis-garis cahaya itu
Y : ya itu tergantung bagaimana caramu memandang pelangi
X : aku selalu yakin, pelangi terindah muncul setelah hujan lebat
Y : …………………………………………………………………………….

Untuk Lelaki Yang Menyenangkan

Hai lelaki yang menyenangkan… aku merasa sebutan ini yang paling cocok untukmu, karena aku tak pernah bisa membandingkan rupa dan kesenangan apapun selain bersamamu..
Kita bertemu dalam pekatnya malam dan riuhnya permasalahan.. ketika aku duduk menghadap jendela yang basah, kau datang ke tempat yang sama untuk melepas dinginnya hati.
Mata kita beradu, senyum terkembang dan sesaat udara memeluk hangat hatiku.
Helaan nafas panjang pertama, aku hanya mencuri pandang dan menikmati lirikan malu-malu mu.. terkadang pandang kita beradu dan membuat mukaku bak tertumpah cat, merah merona.
Helaan nafas kedua, kau beranjak dari tempatmu, dengan ragu dan malu melangkah kearahku. Awalnya aku tak menyadari itu, tapi semakin dekat kakimu melangkah, getaran hatiku mendadak berubah.. aku mendongakkan kepalaku dan mendapati guratan senyum yang begitu tulus. Tanpa berkata apapun, tatapanmu seolah berkata “bolehkah aku duduk disini?” aku tersenyum dan mempersilahkan, masih tanpa kata, persis seperti caraku mempersilahkan kau menerobos hatiku dan memeluknya tepat pada paduan pandang pertama tadi.
Helaan nafas ketiga, tak lagi sendiri ku mengkonsumsi udara di café ini, tapi bersamamu. Untaian kata dan canda mengalun tiada jarak antar kita.. kita terjebak, terjebak dalam kondisi yang enyenangkan.
Semua beban yang sedari tadi di pundak, seperti mencair seketika.. kamu, lebih menyenangkan dari yang aku duga. Lalu, maukah kau terus menemaniku menghela nafas?
Karena oksigen ini terasa terlalu melimpah untukku sendiri.

hai.. pantai..

Kamu memang benar-benar pantai..
Ketika cuaca tenang, kamu tak tenang terkadang..
Ketika cuaca tak baik, kau berdandan lebih menakutkan..
Kamu selalu mau menerima ombak yang bergulung, menghempasmu, mengikis pasirmu perlahan,
Terkadang membuatmu semakin cantik tapi kadang juga buruk..
Kamu muara, muara dari kekosongan dan ketidakpedulian hidup..
Kau diam, mencoba menerima, tampak selalu kuat..
Bahkan ketika karang-karangmu semakin keropos oleh abrasi yang berlebihan,,
Kau tetap mencoba tenang..
Kemudian aku datang, aku hanya kembang api yang ingin menghiburmu, nyaman berada bersamamu..
Aku mencoba memberimu cahaya, menari-nari diatas lapangnya kesabaranmu..
Sesaat kita beriringan, dan itu terlihat indah..
Kerapuhanmu serta kenaifanku terselimuti kenyataan serta keempirisan waktu..
Ketika aku mulai berharap, cuaca membawamu untuk kembali menjadi pantai, diam, tak perduli..
Aku dan kamu, mungkin sengaja dipertemukan untuk saling belajar,
Belajar tentang manisnya hidup yang entah akan kita lalui masing-masing atau kita lalui bersama..