Musim kita

Musim hujan.. Saat dimana aku mengenalmu, berjabat tangan dan saling mengucap nama.. Kita tersenyum dalam tetes air hujan.. Saat itu juga,aku mengharap,kamu menjadi malaikat pencabut nyawaku yang akan membwaku ke nirwana kita..

Kita bersama hingga musim panas.. Seiring hangatnya erat langkah kita bersama.. Kau mengajariku melukis masa depan, mengilustrasikan cerita kita dan mengukir mimpi..

Kita terus brsama hingga musim dingin.. Salju yang lembut,membekukan kita masing-masing, dalam ke egoisan yang engkau yakini benar.. Dan saat itu pula, kau memutuskan untuk menempuh musim dinginmu,tak bersamaku lagi..
Yang lebih mengecewakan, kau membuat boneka salju, pengisi kekosonganmu.. Kau berpura-pura menyendiri untuk berdua.. Dan aku hanya bisa merasakan lewat semua sikapmu..
Aku mulai menghncurkan diriku,lukisan-lukisan, ukiran-ukiran yang dulu kita bentuk bersama.. Dan musim digin ini menjadi musim yang teramat lama harus aku jalani..

Ketika aku telah bulat bagun dari mimpiku, aku mencoba melangkah lagi, dan kau kembali.. Kembali dengan membawa boneka saljumu, dengan keyakinanmu kamu menghncurkannya di depanku..
Tapi, taukah kamu apa yang aku pikirkan? Ketika kau dapat dengan mudahnya menghilang dariku, menemukan boneka saljumu, lalu menghncurkannya.. Maka kau juga akan dapat dengan mudah melakukan itu padaku (lagi) ..

Aku masih begitu membeku, saat musim semi telah datang.. Kamu memelukku dan berusaha membawa musim semi itu padaku..
Mungkin dengan mudah aku bisa terbawa, tapi ketahuilah, sebagian ragaku masih membeku, oleh musim dingin itu..

analogi waktu

Waktu disini berjalan cepat,terkadang lambat..
Terasa cepat saat aku tdak ingin begitu saja melepas masa bimbangku dan berjalan lagi denganmu.. Bahkan bertemu itupun masih menggoreskan trauma bagiku..
Mungkin aku terlalu takut, aku takut dalam diamku.. Aku takut dalam senyumku, aku lebih takut dalam tatapmu..
Membangun kembali harapan.. Harapan dan ekspetasi masa depan yang indah, yang dulu pernah kita rangkai bersama, dan seketika itu juga pernah kau hancurkan.. Atau mungkin dengan kata lain kau teruskan dengan pihak yang berbeda...
Namun,waktu juga terasa sangat lama, ketika aku begitu merindukan kehangatan rumahku.. Bukan lagi aku sebagai rumah yang bersiap didatangi dan ditinggal pergi olehmu, rumah yang selalu menanti kamu pulang, tapi aku juga butuh rumah yang bersedia memberi suasana hangat dan seduhan teh lemon dihias senyum hangat dari penghuninya.. Yap.. Aku rindu rumah.. Dan rindu waktu ini berjalan sesuai logika.. ^-^v

Tuhan tak pernah salah

Menyadari telah ada orang lain yang mengisi hidupmu, mau tidak mau membuatku mengaca, membuatku mengkomparasikan apa yang telah aku lakukan dan apa yang kau ucapkan.. Meskipun ucapan-ucapan itu selalu menghujamku bagai panah beracun dan tajam..

Cinta kita, seperti film yang memiliki banyak sekuel dan kejar tayang.. Berubah cerita disetiap episodenya, sesaat sakit, sesaat sangat bahagia, sesaat penuh amarah dan juga dendam.. Dan, saat ini sedang dalam masaku, babakku dimana aku menjadi sutradara dan pemainnya pula..

Aku bisa dengan mudah datang padamu, pada wanita itu, memaki dan meluapkan emosiku.. Yah.... Seperti standart skenario pada umumnya..

Tapi perlu diingat, aku adalah sutradara, aku merombak script
itu, tetap aku yang jadi peran utama, tapi aku memilih menjalani peranku dengan diam, dengan senyum, dengan ikhlas.. Karena aku telah sadar, saat aku menjadi pemarah, pendendam, pendusta, aku tidak akan pernah bertemu dengan kebenaran.. Kebenaran versiku, versimu dan versiNya ..
Yg bisa aku lakukan lagi setelah merombak semua ini adalah menyerahkan pada eksekutif produser, dan juga produser yang punya kuasa penuh atas hidupku.. Hidup film ini.. TUHAN.. Dan aku yakin, Tuhan tidak akan memberi jawaban yang salah..

July

July wish.. Mungkin aku tak perlu menunggu juli untuk mengucapkan permohonanku.. Setiap hari aku slalu berharap untuk bahagia.. Tapi bahagia itu relatif kawan.. Aku tak pernah bisa memaksa bahagiaku sama dengan bahagiamu.. Aku hanya bisa mengalir bersamamu mencapai bahagia kita. Lagi-lagi hal itu pulalah yang membuatku tidak bisa memaksa..
Sebenarnya kita punya bahagia versi kita, yakni kebersamaan diatas semua perbedaan yang ada. Kita hanya perlu kuat dan konsisten dengan apa yang kita pilih.. Salah satu goyah,maka akan menggoyahkan semuanya..

Yang membuatku percaya padamu adlah ketulusan,yang membuatku yakin padamu adalah kesabaran dan yang membuatku berserah padamu adalah harapan..
Semua rekaman usaha kita untuk bersama sudah sangat jelas menjadi prasasti yang bisa selalu ku kunjungi setiap saat.. Deru langkah, hembus nafas, detak jantung, katup mata, isak tangis dan seulas senyum menjadi sub sistem dari perwakilan itu..

Aku terdiam,sekarang kaku dan esok bimbang.. Saat kamu mengungkapkan alasan mengakhri hubungan kita.. Seharusnya aku tak kaget,dengan latar belakang keluargamu dan kebudayaan dirumahmu.. Hanya saja, aku terdiam,aku terpaku,aku merasa terjepit diantara dua pilihan.. Apabila aku mengikutimu, adakah jaminan engkau akan memilhku dan brsamaku selamanya? Tidakkah kau juga akan mengingkari janjimu seperti yang sudah-sudah ?
Lalu,kalau aku bilang tidak, brarti aku harus melepaskanmu kan?
Lagi-lagi, aku seperti diberì harapan olehmu, tapi harapan itu kosong, hanya kamuflase yang membuatku semakin bertanya-tanya..