DIA

Aku tidak pernah menyangka, akan ada seseorang yang mau menyapaku, saat aku sedang sendiri, tak percaya dengan siapapun dan apapun.
Hanya sekedar memberiku seteguk air saat tenggorokan ini benar-benar mencekik,
mungkin di tempat yang tidak romantis dan juga menarik.
Hanya deretan kursi biru tua, tanpa pegangan, berderet rapi dalam satu garis, berhadapan.
Dibawah kolongnya, berserakan sampah-sampah terbuang yang ditinggalkan tangan-tangan tak peduli sekitar.

Setelah ku teguk air itu, aku kembalikan botol mineral ke tangannya, kulengkapi dengan sebuah anggukan rasa terimakasih, tanpa berani sedikitpun menatap pemilik tangan itu. Bukannya tak mau berterimakasih, tapi aku memang sedang tidak ingin memandang dan dipandang siapapun, apalagi dengan keadaan wajah dan mataku yang membengkak bekas lelehan air mata seharian tadi.
Dan sepertinya, dia mengerti pula akan kondisiku sore itu.
Beberapa detik dalam keheningan, tiba-tiba ia beranjak dan meninggalkanku.. "don't be sad girl..karna hidup lebih indah andai kau tertawa"
masih dalam batas antara lamunan dan kesadaran, aku mendongakkan kepala dan mencoba mencari sosoknya. Tapi yang kudapatkan hanya hembusan angin dingin menerpa wajahku yang sudah sangat kusut sore itu.
Jam menunjukkan 18.30, sudah cukup larut untuk berdiam diri disini saja.. aku melangkahkan kaki, menuju jalur 2, tempat keretaku akan tiba, 5 menit lagi..

Keesokan harinya, di waktu yang sama, aku kembali duduk dalam kurungan beton ini, menanti ular besi belistrik yang akan menghantarkanku pulang.. setiap hari.. heem..rutinitas yang tak perlu dibanggakan sebenarnya, tapi aku bahagia menjalani hidupku sekarang. Meskipun tanpa orang yang beberapa tahun ini menemaniku..

Kulirik jam tanganku, dan masih 18.20, sekitar 15 menit lagi untuk menanti kereta itu. Kupaksakan mataku menyapu ruangan, mencoba menikmati pemandangan di tembok besar yang penuh dengan coretan-coretan tanpa aturan. Tiba-tiba, ekor mataku menangkap sebuah ruang kecil diantaranya, yang tak penuh dengan goresan seperti lainnya. Tak cukup lebar, sekitar 30 x 30 cm, dan ada sesosok gambar lelaki duduk dalam kursi panjang dengan wanita di 2 kolom kursi dikirinya.

Aku melihat gambar itu, tak asing, dan tiba-tiba aku seperti tertuntun mendekatinya. Tanganku seperti digerakkan oleh sesuatu yang maya.. dan mulai menngoreskan tangan ku di sebelah gambar tersebut.. saat aku mulai menggoreskan penaku, tiba-tiba toa stasiun berbunyi, pertanda kendaraanku telah sampai. Seketika itu juga aku melangkahkan kakiku menuju jalur 2.

Jam 18.15 hari berikutnya, ditempat yang sama, dengan gontai aku melangkahkan kakiku dengan malas, menuju posisi biasa..hanya saja, hari ini aku memakai pakaian yang ekstra hangat, demi menjaga kondisi badanku yang memburuk akhir-akhir ini. Tanpa duduk, aku langsung menuju ke goresan-goresan itu, dan aku mendapati gambar baru, pelengkap gambarku yang belum usai kemaren.. sedikit terpana, tapi aku tersenyum dan mengeluarkan pensil bonekaku.. melanjutkan cerita dalam gambar tersebut..
Hal ini terjadi berulang-ulang, dan aku menjadi seperti tersihir oleh keadaan ini, tertarik dengn goresan tangan seseorang yang misterius, dan menjadi seperti kecanduan untuk melanjutkannya.. mulai terbayang gambar apa yang akan ada besok, imajinasiku mulai teracuni dengan semuanya, senyumku yang hampeir hilang beberapa minggu ini,mulai merekah dalam setiap perjalanan pulangku, dan terkadang juga, aku mulai memimpikan semuanya, termasuk juga sosok abstrak itu.

12 hari setelah aku menggoreskan tangan untuk pertamakali di tembok itu, sekarang ruang yang tersisa semakin menyempit.. dan aku belum juga menemukan sosok pelengkap semua goresan ini..
demi seluruh rasa penasaran ini, aku memutuskan untuk mengubah jadwal pulangku dan memberanikan diri untuk menunggunya, sebuah hal gila sebenarnya, tapi semua tekanan hati ini kembali menuntunku kearah yang aku tak tahu benar dan salahnya..
Dan hari itu, semakin larut, kereta terakhir menuju kerumah jam 21.00, dan sekarang sudah 20.55 sepertinya hari ini aku tak akan menemukan dia..

Esok hari, aku menanti ditempat yang sama, sampai di waktu yang sama,.. tapi hal yang sama terjadi lagi..
Lusa.. kembali aku mengulang semua itu.. dan kenyataannya semua terulang kembali..
Ternyata, mungkin semua ini hanya ilusiku, dan aku mencoba untuk kembali kepada relita, bahwa dia memang bukan dengan sengaja melengkapi semua coretanku..
Memang, masih tersisa ruang kecil di tembok itu, dan aku hanya bisa memandangnya lekat,sebelum aku benar-benar melangkahkan kaki dari tempat ini. Langkahku sebenarnya berat, tapi keadaan mamaksanya untuk ringan, dan aku menjangkahkannya menjauh.
Beberapa langkah kemudian, aku menabrak seorang lelaki, dengan tinggi badan yang tak terlampau jauh dibandingkan aku. Aku mendongak dan mengucap maaf, dia hanya tersenyum tipis lalu menepuk bahuku dan melewatiku.
Aroma ini.. aroma yang tak asing bagiku,, kucoba untuk membuka memori otak, mencari di setiap sudutnya, tapi belum juga aku temukan.. ah, sudahlah, mungkin hanya efek dari semua pikiran-pikiran kacauku akhir-akhir ini..
Aku melanjutkan langkahku, tanpa aku sadari, mata itu memandangku, mata itu memandang semua goresanku, dan tangan itu menutup ruang kosong yang kutinggalkan tadi..
Dan, saat aku menginjakkan kaki di depan jalur 2 yang sangat biasa kulalui, tiba-tiba kalbuku berkata lain, aku berbalik dan berlari kembali ke ruangan tadi.. mencari aroma itu lagi.. aku menemukan aroma sesosok malaikat yang sempat memberiku seteguk air beberapa hari yang lalu..
entah apa yang menuntunku, tapi hati ini benar-benar meronta untuk kembali.. separo nafasku hampir terbuang hilang. Dan dengan sisa tenaga yang ada, aku mendapati bahwa tembok ini telah penuh, tak ada ruang lagi, dan tak ada kesempatan lagi. Kupaksakan untuk mencari dia.. berputar sebisaku di area ini, dan semua nihil..
Huuft, sepertinya memang tak ada lagi keajaiban untukku,.. aku duduk dan mengambil sebotol air mineral dari tas ku, tegukan terkhir. Dan juga usaha terakhir untuk mengingat dan mendapati semua ini. Ternyata, semua tak seindah dan semudah ku kira.. ternyata, sosok itu memang bukan jawaban mimpiku selama ini.. tapi hanya pelajaran bagaiman aku harus lebih bersbar dan ikhlas dalam menjalani semuanya.

1 komentar:

  1. Sebenarnya aku pengen menuliskan semua cerita tentang hidupku tapi belum-belum bisa - sebenarnya di otakku penuh dengan masalahku dengan keluargaku dan dengan mereka sampe-sampe otakku gak bisa cerdas lagi. kini tinggal kecerdasan yang dihati tapi sering tak dapat diterima oleh otakku sendiri apalagi dengan mereka malah menganggap aku orang yang aneh.
    Kadang aku berfikir kenapa bentuk psikologisku seperti ini?. Apa karena tekanan mereka kapadaku waktu kecil sampe sekarang ini??.. Tak mungkinkan aku seperti ini terus ???... Trus kenapa mereka dan semuanya gak pedulli????.... Aku yakin ini bukan sesuatu hal positif.

    BalasHapus