TELEVISI DI INDONESIA

Audio visual merupakan budaya baru dan sering dikatakan budaya ketiga setelah budaya lisan dan tulisan. Menjadikan informasi menjadi lebih mudah diterima oleh masyarakat luas karena tidak hanya dengan kata-kata atau tulisan saja, tetapi menunjukkan gambar sebagai realitasnya. Sehingga tanpa berbicara panjang lebar untuk menjelaskan sesuatu, cukup dengan menunjukkan gambar saja sudah dapat menjadi bukti dan dapat memperkuat pendapat pemberi bukti.
Televisi merupakan salah satu dari media audio visual yang memiliki penetrasi tertinggi. Kotak ajaib yang dapat menghubungkan banyak tempat dengan waktu yang singkat dan tingkat kepastian yang tinggi. Televisi juga tidak membebani banyak syarat bagi masyarakat yang ingin menikmatinya. Cukup memiliki listrik, televisi, antena, mereka bisa menikmati semua acara televisi secara gratis (kecuali tv kabel) hal inilah yang mendorong masyarakat indonesia mewajibkan memiliki televisi dalam setiap rumah.
Televisi, lahir di indonesia tepatnya di jakarta pada tahun 1962. TVRI muncul sebagi stasiun televisi pertama di indonesia. Muncul dikarenakan kebutuhan akan pemberitahuan tentang Sea Games ke 4 yang diadakan di jakarta. Pemerintah pada jaman itu (Soeharto) tidak mau malu dikarenakan tidak adanya media yang meliput acara besar dan merupakan penghormatan bagi Indonesia. Sehingga kemunculan TVRI menjadi jawaban atas permasalahan tersebut. Akan tetapi, pada dasarnya, TVRI terbentuk dengan seadanya, Skill yang tak jelas dan juga perencanaan yang belum matang. Sehingga setelah Sea Games, TVRI menjadi senjata Soeharto untuk mengukuhkan kedaulatannya. Pemberitaan yang muncul harus seijin soeharto dan tidak boleh menyinggung tentang pemerintahan, politik maupun keluarga cendana dan kerabat-kerabatnya. Sehingga berita-berita yang diterima rakyat hanya tentang kebaikan-kebaikan pemerintah saja.
Semakin banyak masyarakat yang memiliki TV semakin bermacam pula keinginan yang ada. Mereka lama-kelamaan juga bosan dengan acara-acara TVRI yang itu-itu saja. Sehingga muncullah RCTI, TPI, SCTV, ANTV,dengan alasan pembentukan program acara yang baru yang tidak membosankan bagi masyarakat. Walaupun sebenarnya, pendiri stasiun-stasiun televisi yang baru tetap saja dari keluarga cendana dan koneksi keluarga cendana. Sehingga dalam beroperasi pun mereka bisa menggunakan fasilitas dan tenaga kerja TVRI.
Akan tetapi, hal ini tidak didukung dengan undang-undang yang matang pula. Sehingga tv swasta pun semakin bermunculan (metro,trans,tv7, global, jtv) sehingga persaingan antar stasiun televisi semakin ketat. Tv yang dapat disebut kotak ajaib karena jika tidak suka,dapat langsung pencet, pindah channel ataupun mematikan saja, membuat stasiun-stasiun TV berlomba-lomba untuk membuat acara-acara yang menarik minat penonton. Dari sinilah, TVRI akhirnya meredup dan cenderung terabaikan, lalu sistem pertelevisian berubah.
Baik buruknya sebuah stasiun televisi, bergantung pada acara yang dimiliki dan ditayangkan. dan yang menentukan kualitas program acara adalah dana. pada TV nasional (TVRI) dana yang didapat langsung dari pemerintah. Tetapi pada TV swasta, dana yang didapat dari iklan. Inilah yang menyebabkan acara-acara nya sering tidak mendidik dan hanya menyajikan kesenangan sesaat saja. Tak pelak juga jiplak menjiplak acara televisi pun sudah bukan hal yang tabu lagi. Jika salah satu sukses dengan reality show, maka yang lainnya akan mengikuti pula. Hal ini semata-mata untuk menarik perhatian penonton,sehingga pengiklan mau untuk memberikan produknya ke acara-acara dengan banyak penonton. Hal ini sering disebut dengan rating.
Rating di indonesia, dihitung oleh sebuah perusahaan yang bernama AGB Nielsen. Cara menghitungnya dengan mengambil sample dari setiap daerah (tidak semua penduduk) hanya penduduk yang mau saja, lalu dipasangkan alat di televisi mereka. Dan setiap mereka menyalakan tv dan alat tersebut, maka setiap setelah 17 detik setiap channel dilihat, akan terakumulasi di komputer pusat. Kemudian, data yang didapat akan dijual ke stasiun televisi , lalu stasiun televisi akan menggunakannya sebagai media penarik minat perusahaan untuk mempercayakan produknya mensponsori sebuah acara.
Menyadari bahwa pengiklan merupakan salah satu penentu utama dalam sebuah program, akan tetapi Acara televisi, tidak dengan bebas ditayangkan, ada komisi penyiaran (KPI) yang menjadi pengontrol acara. Mereka bertugas untuk mengawasi, supaya acara yang ada tetap terjaga kualitasnya dan dampaknya bagi masyarakat. KPI juga menerima keluhan masyarakat akan sebuah acara du televisi. Setelah mendapat laporan, mereka akan melakukan kroscek, apabila didapati acara tersebut berdampak tidak baik, maka KPI berhak untuk memblokir acara tersebut.

4 komentar:

  1. iya tuhh..kaya acarane curhat d tpi!!gk berkualitas banget....

    BalasHapus
  2. sumbernya dari mana tuh kok g ditulis???? :)

    BalasHapus
  3. @garis tengah: hahaha...terbukti kan...

    @anonim : sumbernya dari mana-mana tapi kata2q dewe.. trus muw ditulis sumbernya atas name capa enaknya?

    BalasHapus
  4. Uy, aq uda baca sejarah tvmu. Tapi di referensiku televisi di Indonesia muncul karena menyiarkan pidato sukarno pada tahun 1962.

    he...

    BalasHapus